Jalan-Jalan Hemat Sekeluarga: Visiting IKEA Alexandria (Part 5, Habis)

Jalan-Jalan Hemat Sekeluarga: Visiting IKEA Alexandria (Part 5, Habis)

Jurnal perjalanan saya ini dibagi jadi Part 1, Part 2, Part 3, dan Part 4 (kali-kali lagi selo pingin baca, hehehe). Silahkan dibaca ya..

Pagi hari jam 10 (13/7), mas Reza menjemput kami di hotel. Hari itu dia dan temannya, mas Rafli, sudah janjian mau nemenin kita ngider seharian di SG. Mas Rafli ini sebenarnya adalah orang Medan, tetapi mbahnya sudah lama tinggal di SG dan ayah-ibunya juga stay di SG. Entahlah, ku tak sempat menanyakan apakah dia akhirnya jadi Singaporean atau PR (Permanent Resident, red.).

Ke Bugis Street

Karena mas Rafli minta dijemput di kantornya di mall daerah Bugis Street, jadilah kami ke Bugis Street dulu sambil cari-cari cinderamata, sekaligus nitip gembolan tas yang kami bawa sehari-hari. FYI, mas Rafli berprofesi sebagai lawyer dan berkantor di lantai atas mall, sedangkan mas Reza adalah arsitek. Banyak sekali info mengenai Singapura yang didapat dari mas Rafli dan mas Reza, dan mudah-mudahan sempet untuk dipost disini di lain waktu. Aamiin.

Dari bugis street, kami lalu cus ke IKEA Alexandria. Disini kami lewat stasiun MRT Redhill, yang konon digemari selebgram karena warna backgroundnya yang all pink. Ternyata waktu disana biasa aja.

bugis-street
Tempat oleh-oleh di Bugis Street.
redhill-station-mrt
Ini dia stasiun Redhill. Simpel sih, mereka ngecat semua tembok dan pagar pake warna pink.
redhill-station-sg
Yeay, mari kita berfoto, mumpung sudah tak ada orang..

Ke IKEA Alexandria

Setelah dari Bugis street, kami jalan atas ke IKEA Alexandria. FYI, baru pertama kali saya pergi ke IKEA. IKEA disini kata mas Reza harganya jauh dengan yang di Indonesia, karena IKEA di Indonesia lebih mahal karena pajak. Tapi emang bener sih, menurutku harga furniture IKEA disini agak miring. Sayang sekali nggak beli apa-apa, ya mau gimana, masak ke bandara gotong-gotong furniture, hehehe. Banyak banget inspirasi disini untuk yang sedang mikir interior rumah.

Keluar dari kasir IKEA, ada juga beberapa kedai yang menyajikan snack-snack. Yang unik ada self-service es krim soya atau es krim kedelai seharga 4 sen alias Rp 4.000.

ikea-alexandria
IKEA Alexandria. Selain lebih murah, disini juga ada es krim kedelai yang enak banget dan murah.

Jalan Menyusuri Clarke Quay ke Merlion

Jalan ke Singapura, apalagi sama orang sana, sudah pasti isinya adalah ngobrol sambil jalan kaki. Jalan kaki, sampai-sampai kami baru sadar jarak Clarke Quay ke Merlion Park adalah 3.5 km. Kalo lagi kerasa capek, kami berhenti minum air. Enaknya adalah disini pemandangannya indah, jadi nggak kerasa sudah jalan jauh (jarak itu baru kami tahu setelah kami iseng lihat map saat membuat tulisan ini).

Beruntungnya kami, saat kesana ternyata Singapura sedang ada gladi “sangat kotor” persiapan ulang tahun 9 Agustus. Dan itu penuuuuuh sesak oleh visitor. Apa sih gladi kotornya? Mereka trial menembakkan kembang api di langit Singapura, sampai langit jadi full penuh banget kembang api. Benar-benar totalitas banget nyenengin warganya, hehehe. Duh beruntung amat ambo melihat hal unexpected begini.

pos-warna-warni
Kantor pos warna-warni yang suka jadi spot instagram karena unik.

Go Back to KL

Setelah “pesta kembang api-wants to be” selesai, kami langsung jalan setengah lari naik MRT. Hahaha, serius, ini karena pengunjung yang lain juga langsung pada cepet-cepetan pulang, kuatir susah dapat kereta, dan mengakibatkan high traffic di Merlion Park dan sekitarnya (nggak kebayang kalo hari H). Untunglah ada mas Reza dan mas Rafli yang sigap tahu mana celah-celah gedung ini sehingga kami ngacir lebih cepat.

Malam itu, kami dibantu untuk mandi-mandi di apartement mereka sebelum berangkat ngebis. Via ojol, kami akhirnya berangkat ke Golden Mile Complex untuk naik bus ke Kuala Lumpur, karena siangnya flight balik ke Jakarta. The End.

 

 

P.S. Golden Mile Complex is ‘real’ complex thing -_-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *