Ketika Anakku Dianggap Kurang Gizi.. (Sebuah Cerita)

Ketika Anakku Dianggap Kurang Gizi.. (Sebuah Cerita)

Pengalamanku yang ini mungkin bisa jadi cerita menarik yang bisa diambil hikmahnya. Jadi pada suatu waktu (mulai bulan November 2019), Tika mulai masuk dalam masa pengasuhan karena dia tetiba nggak suka di daycare. It’s OK kataku. Mulailah dia diajak ngantor, tentu dengan segala kehebohannya.

Yang pasti ku tahu, saat itu adalah dia memang sudah tidak pernah naik berat badan sejak umur kurang lebih 1 tahun. Stagnan di 12 kilo. Dan itu bertahan sampai bulan Januari 2020, dimana dia saat itu berusia 3 tahun 3 bulan. Sebenarnya sinyal-sinyal kenaikan badan yang ‘irit’ ini sudah kukhawatirkan sejak lama. Tapi, entahlah, mungkin bagian dari diriku masih menyangkal saat itu. Mikirnya, dulu juga aku kecil, bahkan sampai SMA pun beratku hanya 18 kilo! (serius yang ini beneran..). Juga dari gen suami, yang dulu katanya juga paling kecil di sekolah.

Pas setiap hari bertemu dengan Tika, barulah lama-lama sedikit khawatir dengan dia. Ada sedikit rasa bersalah, dan mulai muncul anggapan-anggapan di diri, “sudah benarkah dulu keputusanku untuk menaruh dia di daycare?” “apa mungkin makannya kurang diperhatikan?” “tapi kemarin Amma-nya bilang makannya lahap”, dan banyak hal lain yang sempat terbesit.

Selain itu juga, karena pekerjan yang mengharuskanku untuk tahu, bahwa stunting adalah problem krusial anak-anak Indonesia dan dunia. Stunting bisa menghambat potensi kecerdasan anak di masa depan (ini fakta yang sering ada di jurnal-jurnal) dan meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler. Yang lebih parah, 1 dari 3 anak Indonesia terindikasi stunting. Walaupun memang gizi bukan spesialisasiku, namun sedikit banyak tahu bahwa gizi memang adalah hal yang sering dianggap sepele, padahal fungsinya wow.

stunting-anak

Sampai akhirnya, di bulan Januari aku mencoba melakukan intervensi gizi. Awalnya hanya datang ke faskes 1 via BPJS. Dari situ, diberilah surat pengantar untuk pergi ke rumah sakit, tepatnya ke dokter spesialis anak. Si dokter kemudian mencocokkan usia Tika saat itu dengan BB-nya memakai Growth Chart dari WHO. Dokter bilang bahwa anak saya memang tergolong gizi kurang dan masuk persentil bawah. Alhamdulillah tidak tergolong stunting (jangan lah, amit-amit)..

Dokter kemudian menyarankan Tika melakukan catch-up growth (kejar pertumbuhan) berupa diet tinggi kalori dan protein. Artinya, dia membutuhkan kalori yang banyak agar makanan yang dimakan sehari-hari nggak semuanya habis ke energi yang dikeluarkan. Sarannya adalah sebagai berikut:

1. (kalo suka susu) Minum susu tinggi kalori. Dokter merekomendasikan mengganti susu dengan susu tinggi kalori sebanyak 3 kali sehari (kalo si dokter kebetulan nyaraninnya pakai NutriniDr*nk). Susu tinggi kalori bisa mengandung 1.5 kalori lebih banyak daripaada susu biasa. Diminum selama 1 bulan, kalau 1 bulan terpantau naik ke BB normal, bisa dihentikan.

2. Banyak makanan tinggi kalori dan protein yang sehat, salah satu yang penting adalah protein hewani. Diutamakan memakan daging sapi dan telur.

3. Untuk tipe yang small eater (seperti Tika), harus rajin-rajin ditawari makanan agar banyak asupan yang masuk.

 

Setelah dari dokter, perjuangan kemudian dimulai. Tika memang suka susu (walaupun nggak suka-suka banget), tetapi susu tinggi kalori yang kami beli ternyata butuh waktu juga untuk dia mengkonsumsinya. Pertama kali ngaduk, kental banget. Diminumin ke Tikanya ampe bener-bener mual dia, mungkin karena enegnya luar biasa kali ya.

Dua hari percobaan minum susu itu nggak pernah habis, meski dibuat setengah porsi sekalipun. Di hari selanjutnya, akhirnya bisa berhasil dengan menurunkan “dosis” jadi 5 sendok susu aja. Itu belum usaha bikin es lilin susu yang juga gagal. Padahal dia nih penggemar es krim lho. Mungkin dia di jilatan pertama sudah paham itu adalah muslihat mamaknya, hahaha.

Btw, jika ditelisik dari harganya, sudah pasti harga susu ini cukup lumayan. Dengan kemasan 400g dan tanpa bahan pengawet (yang tentu umur simpannya rendah), harganya sekitar 180ribuan via online. Sempat muter cari susu sejenis ini di apotek Lampung, tapi tak bersua. Bayangin aja, kalo dikira-kira si anak doyan, maka 400 g itu hanya mampir dalam dalam 4-5 hari.

Akhirnya karena susu tak terpegang, jadilah saya memakai makanan sebagai “senjata”. Karena sebelumnya memang agak strict memberi makanan ke Tika, akhirnya aturan sedikit dilonggarkan: mulai makanan yang tinggi kalori yang sehat enak, hehehe. Beneran deh, pusingnya nggak bisa tergantikan, walaupun alhamdulillah waktu itu tugas dari kampus belum terlalu banyak. Memang sebaiknya ibu benar-benar bisa memantau pola makan anak sehari-hari.

Alhamdulillah, satu bulan setelah intervensi, perjuangan kami membuahkan hasil. Tika langsung naik 1 kilo dan akhirnya dinyatakan lebih baik. Intervensi gizi bisa tetap diteruskan asalkan masih di jalur yang ‘seharusnya’.

Yeeeey, finally.

 

PS: Btw, i have told you the spoiler. Sebenarnya bagian susu tadi bisa jadi “peluang” bagi peneliti di Food Tech yang berminat menciptakan susu atau pangan sumber kalori murah, utamanya mungkin untuk anak stunting.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *