Sebulan Hidup di Lat Krabang

Sebulan Hidup di Lat Krabang

Genap sudah sebulan kami di Lat Krabang, tempat yang lumayan jauh dari rumah. Disini kami sudah cukup beradaptasi dengan semuanya.

Kenapa bisa terdampar disini, sebenarnya kami sendiri juga cukup kaget dengan rencana Allah. Kaget kenapa bisa diterima berdua di fakultas yang sama (ini rejeki banget), kaget bisa dilancarkan Allah saat berangkat, padahal di kondisi covid gini semua perjalanan jadi mahal.

Tapi ya benar adanya. “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya. Dan apa saja yang Allah tahan, maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu,” (QS. Fathir: 2).

Singkat cerita, kami telah resmi jadi mahasiswa (lagi). Kali ini sebagai mahasiswa S3 di King Mongkut Institute of Technology Ladkrabang (KMITL). KMITL ini terletak di Kabupaten Lat Krabang (kadang tulisannya Ladkrabang, Red), Provinsi Bangkok coret, sangat dekat dengan Bandara Suvarnabhumi. Kenapa disebut Bangkok coret, karena dah mepet bangeeet keluar Bangkok. Udah mlipir dikit ke Bandara, sudah bukan Bangkok, hehehe.

Mahasiswa Indonesia di KMITL saat ini belum terlalu banyak, kurang lebih ada 30 orang. Jauh tentu kalau dibandingkan dengan mahasiswa di universitas besar di Thailand lainnya, misalnya di Chulalongkorn University atau Thammasat University. Ini karena beasiswa untuk mahasiswa internasional di KMITL baru ada di beberapa tahun terakhir. Yang keren, ada juga beasiswa untuk S1 yang mau langsung S3 juga disini. Mungkin kalau di Indonesia sama dengan beasiswa PMDSU ya.

Sedikitnya mahasiswa internasional di KMITL tentu berefek ke penduduk lokal di Lat Krabang. Sangat banyak penduduk yang sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris disini, karena jarang berinteraksi dengan foreigner. Jadi, google translate di hp belajar bahasa Thailand basic adalah koentji!

Sebagaimana mahasiswa lainnya, kami juga mencari tempat tinggal yang dekat kampus. Mahasiswa yang single biasanya akan sewa apartemen dekat kampus dengan biaya 4000-5000 thb. Sedangkan, yang sudah berkeluarga (apalagi bawa kids) nggak boleh sewa apartemen. Disini, kami menyewa sebuah unit condominium dengan 1 kamar tidur dengan biaya sewa 6000-7000 thb.

Apartemen untuk mahasiswa yang dimaksud bukan kayak di Indonesia. Jadi lebih mirip seperti kos-kosan bertingkat di Indonesia, terdiri dari kamar yang cukup besar dan sudah include kamar mandi dalam dan dapur kecil (dapurnya kadang ada kadang tidak). Biasanya sudah dilengkapi dengan furniture juga, jadi kita tinggal bawa badan aja. Air conditioner juga umumnya sudah default dipasang di tiap unit kamar, karena Bangkok sudah terkenal dengan udaranya yang panas. Jadi pasang AC di Bangkok ini bukan privilege ya, hehehe.

Tempat kami tinggal adalah di condominium rekomendasi teman. Di condo, pemilik unit berbeda-beda sehingga jenis furniture bawaan dan harganya juga tentu berbeda. Kalo di Indonesia, mungkin lebih mirip semacam apartemen ya. Condo kami juga punya kolam renang dan library yang bebas akses.

Oh iya, salah satu yang membuat nyari tempat tinggal agak susah di Thailand adalah karena keharusan membuat “TM 30”. Aturannya, pemilik tempat tinggal yang menyewakan ke foreigner wajib melaporkan identitas foreigner (istilahnya form TM 30) ke Imigrasi Thailand. Karena keribetan ini, umumnya pemilik tanah ogah menerima foreigner. Jadi, memang sedikit rempong untuk urusan rumah tinggal ini. Musti nanya dulu ke agent/owner apakah mereka mau menerima foreigner atau tidak.

OK, kembali ke kehidupan di Lat Krabang. Seperti di kota-kota lain di Thailand, kabupaten Lat Krabang juga kota yang damai dan relijius. Di pagi hari, kita akan menemukan banyak orang berdoa di patung Buddha kecil di dekat bangunan. Juga, biasanya beberapa orang akan memberikan makanan ke biksu.

Untuk makan sehari-hari, makanan halal ada walaupun tidak banyak. Karena warung makan halal sedikit, maka biasanya kami mampir  makannya disitu-situ saja. Nggak ada pilihan, wajib memasak setiap hari, hehehe. Tapi  lumayan aman kok, karena beberapa pasar masih menjual daging ayam dan sapi halal.

Yang agak ribet adalah ketika ke kampus. Karena kantin yang menyediakan makanan halal agak jauh, maka lebih enak untuk bawa makanan dari rumah. Atau, kalau beruntung bisa jadi menemukan burger ayam halal di Seven Eleven 29 thb.

Sampai sini dulu ya ceritanya, mudah-mudahan bisa lanjut maraton ke cerita berikutnya. 🙂

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *