Estimasi Biaya Keberangkatan S3 ke Thailand Sekeluarga (Masa Pandemi)

Estimasi Biaya Keberangkatan S3 ke Thailand Sekeluarga (Masa Pandemi)

Tulisan tentang biaya S3 ini sebenarnya sudah terbesit lama, terlebih beberapa teman juga menanyakan biaya berangkat studi ke Thailand. Sayangnya, karena kesibukan bersama bocah-bocah, akhirnya barulah tulisan ini selesai dibuat. Gapapa ya, yang penting udah ada niat kan hehehe ๐Ÿ™ˆ

Bagi yang ingin studi keluar negeri (S2 atau S3), sudah tentu harus prepare biaya awal keberangkatan. Beberapa beasiswa ada yang menawarkan cover biaya di awal, termasuk settlement cost. Wah, itu surga banget! Sayangnya, sebagian besar beasiswa ke LN biasanya hanya mengcover beberapa hal pokok, misalnya tiket pesawat, stipend, dan tuition fee. Apalagi untuk yang sistem reimburse atau dibayar setelah sampai di negara tujuan, paling tidak kita harus prepare dana ekstra untuk nalangi dulu seluruh cost.

Beasiswa yang saya terima melalui skema KMITL Doctoral Scholarship juga kurang lebih sama seperti beasiswa lainnya. Yang dicover dalam beasiswa ini adalah tiket pesawat, tuition fee, stipend, uang research, dan asuransi kesehatan (dibuatkan oleh kampus ketika sampai di Bangkok). Seluruh biaya ini sistemnya reimburse, jadi baru akan dibayar setelah tahun ajaran dimulai. Sebagai pengganti settlement cost, beasiswa ini membebaskan kita datang (dikasih stipend) sampai 3 bulan sebelum perkuliahan dimulai. Keterangan tentang beasiswa ini bisa dicari disini ya, barangkali berminat.

Balik lagi ya. Untuk keberangkatan ke Thailand, beberapa hal penting yang harus disiapkan adalah tiket pesawat, biaya tes RT-PCR, visa, asuransi kesehatan, biaya karantina, dan settlement cost. Detail jumlah yang harus dikeluarkan bisa dilihat di tabel di bawah ini. Berikut kita bahas satu per satu.

 

Tiket pesawat

Pengalaman kami naik pesawat ke Bangkok bisa dilihat disini. Karena pandemi, harga tiket pesawat ke Bangkok lebih mahal daripada biasanya. Banyak mahasiswa yang menggunakan 2 opsi penerbangan yaitu via Garuda Indonesia (GA) dan Singapore Airlines (SA). Garuda menyediakan diskon untuk pelajar juga lho, asalkan bisa menunjukkan Student ID Card. Untuk harga reguler ada di 7 juta rupiah, sedangkan jika memakai diskon, bisa sampai 4,5 juta. Lumayan hemat kan..

Kalo mau penerbangan yang lebih murah, kita juga bisa memakai Singapore Airlines. Bedanya, pakai maskapai ini wajib transit di Singapura. Harga tiket paling murahnya adalah 2 juta rupiah. Karena kami pakai Vaccinated Travel Line (VTL), biaya tiket jadi sedikit lebih mahal, yaitu 3 juta rupiah.

Test RT-PCR

Tes RT-PCR baik di maskapai Garuda dan SA bisa dilakukan di seluruh lembaga yang diakui Kemenkes (listnya bisa buka disini). Alhamdulilahnya di Indonesia tes RT-PCR murah banget, di Lab Swasta Bumame kemarin kami dapat dengan harga hanya 275 ribu rupiah per orang. Tes RT-PCR ini harus dilakukan maksimal 72 jam sebelum keberangkatan. Jangan lupa juga untuk menyediakan suratnya dalam bahasa Inggris. Jika ada anak dan bayi, juga tetap harus dilakukan test. Nggak ada pengecualian.

Visa

Untuk mahasiswa, visa yang dipakai mendaftar adalah non-immigrant visa ED, sedangkan untuk pendamping (istri dan anak-anak) memakai non-immigrant visa O. Persyaratan mendapat visa mengacu pada website Royal Thai Embassy. Biayanya sama saja, yaitu 1.120.000 per orang. Kalau mau cek gimana sebenernya prosedur mengurus visa Thailand, bisa baca disini.

Yang perlu diingat, untuk visa ED dan non-O, pihak Kedutaan Bangkok akan meminta beberapa berkas, termasuk SKCK (bisa lihat cara buatnya yang simpel disini), LoA (untuk mahasiswa) dan surat keterangan dari institusi (untuk anak). Jadi musti disiapkan sebelum apply ya.

Asuransi Kesehatan

Salah satu syarat dari Thailand Government untuk masuk ke negeri gajah putih adalah punya asuransi yang mengcover COVID dengan pertanggungjawaban USD 50.000. Tujuannya karena COVID ini biaya perawatannya mahal. Terlebih, jika kita ternyata dites positif di hotel karantina, maka auto masuk rumah sakit. Dan diantar ambulans. Jadi nggak kebayang juga kalau kesana tanpa asuransi kesehatan. ๐Ÿ™ˆ

Untuk keberangkatan, banyak mahasiswa yang memilih Prud****** sebagai asuransi kesehatan. Ada juga yang pakai AX* Sawasdee, karena mengcover yang asimptomatik (FYI, di Thailand yang asimptomatik juga masih harus masuk rumah sakit, red.). Asuransi-asuransi ini nggak hanya mengcover COVID, tapi juga penyakit-penyakit umum. Biaya termurah untuk asuransi kesehatan ini kurang lebih sekitar 1.5 juta per triwulan. Program asuransi ini hanya mengcover rawat inap saja. Jika sakit kita memerlukan rawat jalan, maka harus tetap merogoh kocek sendiri, hehehe. Bisa dibayangin betapa murahnya BPJS Kesehatan yang kita punya di Indonesia. Sehat itu mahal, Jenderal!

Biaya Karantina

Biaya karantina ini berbeda-beda, karena bergantung pada kebijakan CCSA dan Royal Gazette di Thailand. Pada saat kami berangkat, ada skema Test and Go, yang memungkinkan untuk datang karantina di hotel 1 hari untuk test RT-PCR, kemudian pulang setelah keluar hasil test RT-PCR. Sebelumnya, karantina bisa dilakukan melalui skema Alternative Quarantine, yaitu menginap sampai 10-14 hari di hotel karantina.

Contoh bentuk kamar hotel kami di Elegant Airport Hotel. Nggak punya dokumentasi pribadi, jadi ini comot aja di google, hehehe.

Di skema terbaru (update on 22 Januari 2022), Thai Government sepertinya akan menerapkan skema Test and Go baru, yaitu wajib menginap di hotel pada hari pertama dan kelima untuk Test RT-PCR. Range biaya karantina bisa dicek di website ini. Biasanya, booking hotel karantina dilakukan langsung via email ke hotel yang dituju.

Settlement cost

Ya nggak bisa bohong ya, namanya tinggal di tempat baru, di awal sudah pasti ada biaya pindahan. Di Thailand, untuk sewa apartemen/condo, diperlukan biaya deposit. Misalkan ada apartmen dengan nilai sewa 5.000 thb per bulan, nah kita harus menyiapkan uang deposit sebesar dua kali biaya sewa (2 x 5.000 = 10.000 thb). Jadi, total yang harus dibayar ke owner di awal adalah 15.000 thb. Uang deposit ini fungsinya sebagai jaminan kalau-kalau terjadi kerusakan pada furniture yang kita sewa. Kalo ternyata di akhir sewa keadaan kamar oke, maka deposit akan kembali 100% di akhir tahun sewa. Oh iya, walaupun dibayar bulanan, apartemen/condo biasanya wajib disewa selama satu tahun.

Btw, beda apartemen dan condo bisa dilihat di tulisanku yang lain ya (baca: Sebulan Hidup di Lat Krabang).

Selain biaya sewa tempat tinggal, kita juga harus prepare biaya hidup awal. Gunanya untuk beli kompor, rice cooker, bahan makanan harian, dll. Biaya ini tentu bervariasi ya, intinya bisa mengcover sebelum dana beasiswa masuk ke rekening kita.

Berangkat Bawa Keluarga

Karena saat berangkat kami juga membawa anak berusia 5 tahun dan bayi, beberapa pos juga bertambah sesuai dengan kondisi. Untuk bayi, misalnya, biaya tiket yang dikenakan adalah 10% dari harga dewasa, sedangkan anak diatas dua tahun sudah dikenakan tiket full.

Biaya asuransi kesehatan juga akan lebih murah (sedikiiiit) untuk anak dan bayi. Saat ini, kami mendapat harga kurleb 1,3 juta per anak per triwulan. Ini wajib sih ya, karena anak-anak lebih rentan sakit daripada yang gede. Amit-amit jangan sampai sakit deh, aamiin.

Biaya karantina juga biasanya akan ada diskon untuk anak dan bayi. Beberapa hotel juga punya batasan orang per kamar. Di hotel tempat kami menginap – The Elegant Bangkok – misalnya, membatasi 1 kamar 3 orang, sehingga kami harus menyewa 2 kamar untuk 4 orang.

Ok, kurang lebih itu yang harus dipersiapkan. Next artikel, saya akan coba jabarkan apa saja peralatan yang penting dibawa sebelum ke Thailand. Semoga bermanfaat. ๐Ÿ™‚

P.S. Biaya-biaya yang tertera ini belum termasuk biaya tak terduga ya, misalnya biaya perpisahan, oleh-oleh, atau biaya kelebihan bagasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *