Drama Nitipin Anak

Drama Nitipin Anak

I was surprised, happy, but nervous. Meeting minggu lalu dengan Ajarn, tiba-tiba dikabari, “Selamat ya.. Proposal Hesti diterima pendanaan di Thai Government tahun ini. Untuk publikasinya diminta dua jurnal Wos. Jadi 6 bulan ke depan, Hesti selesaikan satu riset dulu yang di submit bulan Agustus ya.” “Selesaikan proposalmu juga untuk keperluan di kampus.”

Oh my God.. Aku belum siap..

Tadinya semester 1 ini aku dan suami bersepakat beberapa hal. Rencananya kami akan split tugas: suami yang akan stay lebih lama di lab, sedangkan aku ambil matkul yang agak banyak. Nggak ngelab dulu. Karena covid, kuliahnya juga di rumah. Jadi, masih bisa handle lah dengan anak-anak.

Tadinya, kami pikir masih sambil nabung dikit-dikit ngumpulin tiket pulang ke Indonesia.

Eeeh baru juga adaptasi.. Masalah pertama muncul: sekolah Tika tiba-tiba diminta offline tiga kali seminggu. Senin, Rabu, dan Jumat harus berangkat ke Bangkok. Perjalanan 2 jam dari rumah, naik kereta ekonomi. Akhirnya suami yang nganter Tika setiap berangkat sekolah. Jam 6 pagi posisi matahari belum terbit disini, udah harus berangkat. Untungnya Tika happy, meskipun pake drama dulu di pagi hari.

Baru penyesuaian naik kereta, muncul kepusingan kedua. Ajarn suami tiba-tiba mengharuskan suami standby di kampus dengan datang di lab setiap hari. Ngumpulin progress penelitian setiap minggu. Ya, ini karena status kami disini nggak hanya sebagai PhD student, tapi juga research assistant. Nah lho, mumet tho yo..

Dan tiba-tiba datang juga kabar baik dari Ajarnku. Sebenernya aku juga lagi butuh banget uang research, karena uang research bawaan beasiswa cukup sedikit. Tetapi karena hal itu pula, berarti berubah pula rencana kami..

Astagaaaa ada-ada ajaaaaa

Karena mau tidak mau harus menitipkan anak-anak, akhirnya kami mulai mencari daycare. Btw, daycare di Bangkok range nya bermacam-macam. Kalau daycare international, harganya sangat mahal, mulai dari 15.000 thb (IDR 7 juta) per bulan. Untuk daycare lokal, biaya penitipannya lebih murah, mulai dari 6.000 thb (IDR 2,5 juta) untuk anak yang sudah besar. Untuk bayi, biasanya mereka akan charge biaya yang lebih mahal. Karena lokal, pengajaran dilakukan dengan bahasa Thai. Makanan juga menjadi concern karena mereka non-muslim. Jadi, musti banget bawa makanan sendiri dari rumah.

Setelah seminggu mencari-cari daycare, ternyata ditemukan satu kesimpulan: dua daycare yang paling deket dari rumah ternyata cukup jauh, jaraknya 10 kilo. Dan nggak ada kendaraan umum kesana. Di dekat rumah, nggak ada daycare sama sekali. Pusing nggak, pusing nggak… pusing lah!

Dah mulai puyeng kepala mamak nih..

Untungnya, berkat bantuan teman (terima kasih mas Joko), suatu waktu ketika ke masjid, ia bertanya ke sebuah warung dekat masjid. Ternyata si pemilik warung baiiik banget mau dititipi anak. Ya Allah, aku terharu sekali. Mbak pemilik warung – kami memanggilnya Pi Badriyah (Pi adalah panggilan untuk “kakak”) – juga muslim, jadi kami nggak perlu khawatir dengan makanannya. Yang jagain juga banyak, karena keluarga Thai tersebut ada disana semua, yaitu  ada Kun Yai (panggilan mbah Putri), Kun Ta (panggilan mbah Kakung), juga anak-anaknya yang sudah besar. Disana, kami juga mendapat biaya penitipan yang lebih murah, yaitu 4000 thb per anak.

Lalu, apakah masalahnya selesai? Belum. Rumah Pi Badriyah tadi sama jauhnya dengan daycare, yaitu 12 kilo ke rumah. Hanya plusnya ada kendaraan umum menuju kesana, yaitu menggunakan mode songthaew.

Kayak gini bentuk songthaew. Kadang kalo rame banget, penumpang juga bisa sampai berdiri juga.

So, the plan was changed. Suami antar anak ke Bangkok tiap pagi, pulang siang, lalu Tika diantar ke tempat Pi Badriyah, baru ke kampus. Sedangkan, aku tiap pagi bawa Gigi ke Pi Badriyah, lalu ke kampus. Sore kami berdua jemput anak-anak.

Teorinya mudah, prakteknya?

Wkwkwk, dari rumah ke tempat P’ Badriyah naik songthew dua kali ditambah jalan kaki 700 m menghabiskan waktu 1,5 jam. Ini belum ditambah gendong bayi dan gendong dua tas. Sekalinya sampai rumah mbaknya, keringet langsung gembroyok. Jan, wis panas, gek nggowo-nggowo bocah, tiba-tiba aku jadi mengasihani diriku sendiri.

Gek ngopo adoh-adoh ning LN malah nyoroni awake dewe

Pulang jemput anak-anak dari kampus, bojoku yo ternyata ngeluh juga. Jan puanase, le mlaku adoh, Tika senengané ngeluh.. Lha ya iya lah, perjalanan dia ke Bangkok PP 4 jam, juga tambah bonus jalan 1 kilo 😂😂 anak kecil apa nggak kasian 😂😂

Dan, perjalanan dari kampus menuju rumah P’ Badriyah di sore hari untuk menjemput anak-anak nyatanya juga bisa sampai 1 jam, utamanya kalau songthaew terlalu ramai, telat nekan bel untuk turun jadi harus jalan cukup jauh, dan lain-lain.

Bener-bener deh, tuo ning ndalan. Kejam sekali tinggal di ibukota.

Setelah diskusi dengan suami, akhirnya muncul keputusan: kita harus beli motor. Dah lah, nggak pake lama, bisa ajur badan kita kalo gini terus. Maklum sudah 30+, wkwkwk.

Nah, ini baru mau datang motornya.. Kita lihat apakah masalah sudah selesai..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *