Renovasi Rumah: Cari-Cari Tukang (part 1)

Renovasi Rumah: Cari-Cari Tukang (part 1)

Rumah terbangun dan urusan akad sudah clear, sayangnya ini belum berarti masalah selesai.

Memang benar seperti yang orang-orang bilang: beli apa-apa mudah, tapi tidak dengan beli rumah. Maksudnya, bukan cuma belinya – tapi renovasinya pun sangat merogoh kocek. Heuh, andaikan kami milyuner ya.. hehehe..

Seperti umumnya rumah subsidi yang dibangun di tempat-tempat lain (baca cerita awalnya disini), tembok belakang antar rumah bukan merupakan fasilitas developer. Dan nggak ada dapur. Jadi kemudian kami menyusun rencana awal untuk renovasi belakang rumah dengan cara didak. Bagian atas rencananya mau dikasih kanopi untuk jemuran, dan mungkin mau dibuat satu kamar lagi (kalo ada rejekinya nanti).

Ukuran daknya adalah 3.8 m x 6 m, cukup mini. Masalah muncul lagi, karena tangga ternyata cukup banyak makan tempat. Mau pakai tangga putar tapi punya bocil, bahaya. Sampe sekarang masih belum kepikir juga tangganya model apa.

Sementara bagian depan dipikir belakangan aja, sambil duitnya dikumpul-kumpulin. Mahal euy kalo semua diladeni.

***

Setelah desain selesai, kami kemudian mencari tukang. Setelah memilih dari 3 tukang yang ditawarkan saudara dan kenalan, akhirnya kami sreg memakai jasa Pakde Rahmat, yang dulu sempat jadi bapak kost di kontrakan kami dulu. Pertimbangannya karena kenal dekat dan rumahnya juga dekat, jadi bisa dijadikan langganan kalo di kemudian hari ada problem apa-apa. Percayalah, cari tukang itu susaaaah banget.

Dengan Pakde Rahmat, akhirnya kami sepakat membangun bagian dak belakang sampai finishing (atas dibuat tembok berkeliling, dapur rapi) dengan harga 13,5 juta untuk jasa tukang. Sementara, bahan bangunannya kami yang beli sendiri. Biaya tersebut belum termasuk tangga dan listrik (pasang colokan-colokan baru).

Hari ini sudah masuk hari kedua renovasi rumah. Next time kita update lagi ya hasilnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.