Tips Melakukan Perjalanan Jauh dengan Balita (Based on True Story)

Tips Melakukan Perjalanan Jauh dengan Balita (Based on True Story)

Ngebis jauh membawa anak adalah tantangan tersendiri. Setidaknya itulah yang terjadi pada kami – keluarga kecil beranggotakan ayah, ibu, dan seorang anak berusia 2,5 tahun – yang wajib mudik dari Lampung ke Jawa minimal 6 bulan sekali.

Ada banyak faktor mengapa kemudian kami harus membiasakan diri naik bus daripada naik pesawat. Pertama, adalah alasan ekonomi (udah bisa ditebak kali ya..). Ketentuan pembelian tiket pesawat sudah mewajibkan anak membayar full ticket jika anak berusia diatas 2 tahun. Sebenarnya ini bisa diakalin dengan “memalsukan” tanggal lahir anak jika masih 2 tahun mepet-mepet (toh memang nggak ada bukti valid untuk memastikan identitas anak, seperti KTP). Tapi, kami juga nggak ingin perjalanannya jadi nggak barokah. Hehehe.

Selain itu, adanya tarif baru yang membuat harga tiket pesawat melonjak ini mau nggak mau memaksa kami untuk menunda sejenak naik si burung terbang ini. Apa itu definisi “menunda sejenak? Yaa, mana tahu besok kita jadi orang kaya, hehehe..

Perjalanan bus Lampung-Yogyakarta atau Lampung-Klaten memakan waktu kurang lebih 28 jam. Cukup membuat encok badan bagi yang jarang-jarang naik bus.

Langsung saja ya, berikut beberapa tips bagi yang pertama kali akan melakukan perjalanan jauh bersama balita via bus:

  1. Sounding ke anak. Sounding ke anak bahwa kita akan naik bus sebaiknya dilakukan dari jauh-jauh hari, misalnya sebulan sebelumnya. Kalo pas bermain, kita juga bisa menceritakan perjalanannya melalui buku kesayangan.
  2. Lihatlah tipe anak Anda, apakah dia tipe yang suka mabuk, atau susah jika disuruh duduk lama? Cara melihat tipe anak yang suka mabuk sebenarnya mudah: untuk yang jarang melakukan perjalanan via mobil/angkot/bus jarak dekat mulai dari masa kehamilan atau bayi, umumnya cukup besar kemungkinan akan mabuk perjalanan. Bagi yang susah disuruh duduk lama dan baru pertama kali menggunakan transportasi bus, bisa dipesankan tiket di kursi paling depan (eh tapi bus-bus baru sekarang punya sekat antara sopir dan penumpang, red.).
  3. Tanyakan ke diri Anda, apakah Anda sendiri tipe yang suka mabuk perjalanan? Ini penting karena saya tipe orang yang suka rada mual jika di perjalanan mendapat hal-hal yang kurang nyaman (misalnya ada orang yang muntah dan bau, bau kamar mandi, dsb.). Jika ini terjadi, saya akan langsung cepat-cepat menyerahkan amanah anak ke suami sementara.
  4. Membawa amunisi (baca: jajan). Di sepanjang perjalanan, anak bisa menyemil apapun yang dia mau. Kami membagi cemilan menjadi 3 macam: manis, asin ringan, dan biskuit. Tak lupa kami juga membawa pop mie sebagai bekal “makan” dadakan di bus. Seberapa banyak membeli cemilan tentu tergantung dari tipe keluarga. Di mudik terakhir, saya membeli cemilan sampai Rp 250 ribu untuk perjalanan 28 jam karena keluarga kami tipe yang suka nyemil.
  5. Siapkan amenities yang ditaruh di tas yang mudah diraih, misalnya ransel. Isinya: pampers, minyak kayu putih, bedak, atasan dan celana, baju dalam, kresek kecil, tisu kering, dan tisu basah. Jangan ditaruh di koper, karena kalau ada “tragedi” dadakan bisa mempersiapkan diri.
  6. Jangan lupa kesehatan badan dan jaga komunikasi dengan suami. Membawa banyak bawaan dan memenuhi keinginan si kecil saat perjalanan jauh bisa memakan banyak energi. Kuncinya, persiapkan kesehatan badan sejak jauh-jauh hari. Dan jangan lupa juga menjaga kekompakan dengan suami agar bisa melaksanakan tugas masing-masing dengan baik.
  7. Uang ekstra is a must! Perjalanan sehari semalam dalam bus selain menguras tenaga dan waktu, tentu juga menguras uang, hahaha. Maksudnya, kita biasanya akan berhenti di beberapa tempat makan, jadi siapkan uang makan dan uang receh ke kamar mandi.

Jadi, sudah siap melakukan perjalanan jauh hari ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *