Food Adulteration di Sekitar Kita

Food Adulteration di Sekitar Kita

Weekend ini akhirnya bisa bernapas lega setelah semingguan bergulat dengan tugas-tugas rumah tangga dan kampus. Alhamdulillah suhu tubuh juga Tika sudah dingin setelah sebelumnya 3 hari demam naik turun dan dibawa ke UGD. Semoga dimudahkan ke depannya oleh Allah. Aamiin.

Kali ini topik tulisan saya akan membahas tentang food adulteration atau pemalsuan pangan. Penjelasan mengenai food adulteration dalam pangan sebenarnya sangat panjang, insya Allah nanti setelah artikel di Panganpedia jadi, kita copas linknya kesini ya..

Secara singkat, food adulteration adalah bentuk penyalahgunaan dalam perdagangan pangan, baik berupa bahan pangan maupun produk makanan yang sudah jadi. Contohnya sering kita lihat di reportase investigasi Trans TV, misalnya bakso daging sapi yang ‘diganti’ menjadi daging tikus, atau makanan-makanan yang diberi bahan yang tidak semestinya, boraks misalnya.

Pertanyaannya, apakah food scientist seperti saya juga pernah mengalami food adulteration? Jawabannya, tentu. Hehehe. Ketika bahan pangan datang dalam bentuk mentahan, biasanya kita sadar kalo kita ‘ditipu’ pedagang. Bedanya, kalo bentuknya sudah diolah (jadi bakso misalnya), mau dicemplungin boraks juga sulit membedakannya dengan bakso biasa.

Nah, beberapa pengalaman mengalami food adulteration yang pernah saya alami antara lain:

1. Telur asin

Membeli telur asin di tukang sayur adalah salah satu kebiasaan saya, terutama karena Tika suka banget makan nasi dengan lauk ini. Pernah suatu waktu, warung sayur langganan menyajikan sekeranjang telur asin di atas meja. Saat mengambil telur, saya dan pakde warung kemudian sama-sama curiga karena telur asin ini berbeda dengan telur asin biasanya. Bukan sebesar telur itik, ukurannya justru seperti telur ayam ukuran kecil. Tidak berbau amis.

Karena sebelumnya hanya sedikit mendalami ilmu tentang telur asin, jadilah kita kembali menjadi murid dalam setitik ilmu Allah yang Maha Luas ini. Sampai tulisan ini dibuat, saya juga nggak ngerti apakah telur asin yang saya lihat tersebut adalah asli atau tidak. Ini terjadi karena bisa jadi tiga kemungkinan:

(1) Telur asin di Indonesia ini katanya ada berbagai grade, sehingga telur itik ukuran kecil juga dijual (grade C, diameter <4,2 cm). Walau begitu, informasi ini perlu dikroscek lagi karena berasal dari data yang tidak terlalu valid. Yah, next time kita musti studi lapangan nih!

(2) Telur ayam warna biru bisa jadi ada lho ternyata, dari ayam bangkok petelur biru atau varietas ayam lainnya. Tapi logikanya, pasti harga telurnya jauh lebih mahal daripada telur itik.

(3) Menurut pakde warung: “Mbak, bahaya mbak. Bisa jadi itu telur asin palsu. Aslinya telur ayam yang diasinin, terus dicat biru.” Hmm, bisa jadi sih, terlebih saat dibaui nggak ada aroma amisnya seperti beli telur itik. Cuma untuk men-judge palsu juga musti ada buktinya.

2. ‘Mirip’ daun salam

Kebetulan saya suka beli bumbu dapur satu kresek, yang isinya sudah lengkap: jahe, kunyit, daun jeruk, daun salam, lengkuas, sereh. Pernah sekali tertipu, ternyata daun salamnya banyak ‘tertukar’ dengan daun jambu. Sungguh sangat mirip sekilas, kecuali baunya.

3. Jus buah kok pahit?

Dikarenakan blender di rumah sudah almarhum, akhirnya mau tak mau kami suka nongkrong beli jus buah di pinggir jalan. Sekali beli, dua kali beli, tiga kali beli, suami selalu mengeluhkan rasa aftertaste pahit, sedangkan saya tidak. Buntutnya, keempat kalinya, beberapa teman yang beli disitu juga merasakan hal yang sama, pahit ditambah serik di tenggorokan. Akhirnya kami sepakat bahwa si penjual jus ternyata pakai pemanis buatan.

4. Susu yang Keenceran

Susu yang keenceran memang tergantung dari konteksnya, ya. Bagi pembeli yang memang suka susu dengan rasa yang light, susu cair yang diencerkan dengan air, lalu diberi perasa lain (strawberry atau coklat) tentu enak dan mereka tidak merasa tertipu. Tetapi bagi konsumen yang kurang suka minum susu dengan tekstur light (seperti saya), penambahan air ke susu ini bisa jadi bentuk food adulteration, lho! Ini terjadi karena saya dua kali datang ke warung susu STMJ dan kecewa dengan kualitas susu disana.

Nah, itu dia beberapa pengalaman saya. Bagaimana dengan Anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published.