Everybody Lies – Review Buku Favorit (1)

Everybody Lies – Review Buku Favorit (1)

Pemilu sudah selesai dengan banyaaaak sekali perdebatan antara masing-masing pendukung Capres dan Cawapres. Tuduhan KPU tidak profesional, suara yang sengaja digelembungkan, dan kecurangan-kecurangan lain, barangkali adalah hasrat mereka yang tidak puas pada kinerja Komisi Pemilihan Umum tahun ini. Nah, jadi sangat sulit ya nampaknya meyakinkan 264 juta jiwa penduduk Indonesia yang sangat heterogen isi kepalanya.

Baiklah, kita tunggu pengumuman real count dari KPU saja.

Tulisan saya kali ini tentu tidak membahas hiruk pikuk pemilu, hehehe. Kali ini saya ingin me-review salah satu buku non-fiksi yang baru saja dibeli di Gramedia karena diskonan. Mau tahu bukunya?

Everybody Lies. Saat pertama kali melihat dan membuka buku ini, bayangan saya adalah buku yang mirip seperti series Malcolm Gladwell. Sebagai buku non-fiksi yang meraih “New York Times Bestseller” dan penjelasan yang eyes-opening, saya langsung bertekad menggotong buku ini ke rumah. Selera, gaes! wkwkwk

Stephens-Davidowitz benar-benar “menelanjangi” data di buku ini. Intinya, bahwa persepsi masyarakat berdasarkan mulut ternyata tidak sama dengan hasil pencarian melalui dunia maya. Yah, sebagai manusia kita memang seringkali ngomong yang tidak sesuai kenyataan karena etika, bahkan dalam survey yang anonim sekalipun. Kabar baiknya, semua curhatan rahasia sebenarnya sudah ada di bank data, yaitu Google.

Kok bisa Google? Iya, Google punya Google Trends, yang dia dapat menganalisis seberapa terkenal kata kunci dan dari daerah mana biasanya kata kunci itu dicari di-google. Dia kemudian mengambil beberapa contoh kasus unik, misalnya pemilu Barack Obama beberapa tahun.

Eits, kita membahas pemilu Amerika Serikat nih ya, bukan Indonesia..

Pada pemilu Barack Obama, masyarakat Amerika secara eksplisit berkata bahwa mereka tidak rasis dalam pemilihan umum (karena Obama dalam hal ini adalah orang kulit hitam). Ternyata hasil dari pencarian melalui Google Trends pada masa itu menunjukkan bahwa orang AS masih rasis. Dalam Google Trends, kepemilihan Obama ditunjukkan dengan lebih populernya kata “nigger president” daripada kata “first black president”. Kelihatan ‘kan ya bedanya? (di AS, konotasi nigger adalah negatif dan mengarah ke rasis)

Baca buku ini jadi ngeri sendiri. Ngeri-ngeri sedep ya, tahu bahwa data kita sehari-hari di Google masuk menjadi Big Data yang akan dijadikan koleksi dan dianalisis. Stephens-Davidowitz nampaknya sangat logic memaparkan bahwa seringkali saat kita sakit, yang pertama kali kita lakukan bukanlah pergi ke dokter, tetapi mencari informasi ke Google tentang gejala sakit kita. Bener banget kan ya! Hehehe

Di dalam buku, juga diungkap berbagai fakta yang tabu dan menarik. Seperti misalnya, bagaimana tipe masyarakat dalam mencari konten porno, berapa banyak pria di AS yang gay, berapa presentase Anda akan menjadi kaya di masa depan, dan errr.. ini yang saya tunggu: seberapa penting kita memilih universitas saat kuliah? (yang ini belum nyampe bacanya)

Overall, rating saya untuk buku ini adalah: 8/10

Jadi, silahkan bagi yang suka buku non-fiksi, buku yang satu ini bisa jadi bacaan yang menambah wawasan pengetahuan retjeh yang berharga.

Satu kata mutiara untuk tulisan kali ini,

“Netflix learned a similar lesson early on in its life cycle: don’t trust what people tell you; trust what they do.” – Seth Stephens-Davidowitz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *