Nasihat Ibu Psikolog

Nasihat Ibu Psikolog

“Salah satu tugas seorang ibu itu berat, yaitu memastikan anak bisa terbuka dengan orang tuanya. Kalau di TK gini insya Allah anaknya baik-baik, Bu. Kalaupun nakal, insya Allah nakalnya dalam batas wajar. Apalagi sudah ada guru-gurunya yang hebat-hebat.”

“Tapi ketika nanti masuk jenjang berikutnya – SD, SMP, seterusnya – anak akan masuk ke lingkungan yang lebih berat. Ada bullying, body shaming, pergaulan bebas, dan semacamnya, maka keterbukaan itu jadi penting. Tugas kita sekarang adalah membuat anak terbuka dengan orang tuanya.”

Demikian merupakan petikan nasihat dari ibu psikolog yang duduk di depanku. Ini adalah pertama kalinya Tika tes IQ. Kami baru saja mengobrol tentang apa saja – mulai dari anaknya, nasib sekolah SD Tika, hasil tes.

Aku adalah orangtua yang bersalah. Si Ibu nampaknya sudah bisa membaca apa yang terjadi dengan Tika. Beliau tahu kalau si Tika suka dipaksa orang tuanya. Ibunya khawatir, kalau dibiarkan nanti takut dia jadi pribadi yang kurang terbuka.

Isu ini sebenarnya pernah kubicarakan dengan suami beberapa waktu yang lalu. Kami sadar kalo pola asuh kami bermasalah. Khususnya karena kurang sabar kalo menghadapi sifat tika yang ngeyel alias keras kepala. Dan berakhir galak-galakan.

Kebetulan suami memang beneran galak dan disiplin. Sedangkan aku berpikir, okelah, kalau nggak dibentuk sedari dini, khawatir akan kurang ulet menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.

Jatuhnya jadi… hmm… gaya asuh orang Asia yang sangat konservatif.

Si ibu psikologi mulai mengeluarkan nasehat – ringan tapi jelas.

“Ibu, tes IQ ini tidak lebih dari tes biasa. Yang hanya bisa kita ukur adalah kedisiplinan dan kemampuannya. Ada beberapa perbedaan kemampuan, yaitu rata-rata, rata-rata atas (cerdas), dan superior. Ini hanya sebagai indikator, kalau si anak mendapat rata-rata, maka biasanya anak rentang fokus atau belajarnya lebih singkat. Tapi kalau rata-rata atas, maka sudah agak panjang. Disitu kita bisa menyesuaikan gaya belajar yang pas.”

Aku mengangguk, tanda setuju.

“Ketika lagi capek-capeknya, Ibu harus ingat – Berapa tahun lagi saya diberi kesempatan untuk merawat anak ini? 10 tahun lagi? 15 tahun lagi? Karena kita nggak pernah tahu seperti apa di masa depan. Saya hanya diizinkan merawat anak saya selama 12 tahun, karena pada saat SMP anak saya pingin sekolah di luar kota, saat itu di Jakarta. SMA, dia sekolah di Bogor. Jadi selama 12 tahun itu, saya usahakan dia mendapatkan pendidikan yang baik. Jadi kalau Ibu capek, ingat-ingat itu tadi.”

Aku… cuma bisa berlubang air mata di balik masker. Semoga Allah masih memberiku kesempatan membesarkan anak-anak lebih baik lagi.

 

P.S. Tes IQ ini dilakukan saat Tika berusia 5 tahun. Caranya si ibu akan meminta anak untuk menggambar orang, bunga, dan pelangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.